Jumat, September 28, 2012

Apakah anda sulit menemukan lagu untuk pelayanan di Pendidikan Iman Anak (PIA) ? Ini solusinya... :)






Teman-teman yang terkasih di dalam Kristus...
Akhir-akhir ini susah sekali ditemukan lagu-lagu yang bagus dan mendidik untuk anak-anak. Lagu-lagu yang beredat luas adalah lagu-lagu dewasa dan kurang mendidik. Kita tentu tidak ingin buah hati kita terkena imbas buruk dari lagu-lagu yang tidak sesuai dengan usia mereka.
Bila anda membutuhkan lagu-lagu yang bagus, terutama untuk kepentingan pembinaan anak-anak atau kegiatan pendidikan iman anak, anda bisa menemukannya di:

http://www.lagu2anak.blogspot.com




lagu lagu yang ada di sana adalah lagu anak-anak (terbaru) yang mendidik dan beberapa lagu digarap dalam bahasa Inggris.

Semoga bermanfaat buat anda orang tua dan semua yang berkecimpung di dunia pendidikan anak-anak.

Terima kasih..


God Bless You...

Sabtu, Juli 24, 2010

Nilau Sebuah Cincin


Nilai / harga sesuatu barang tidak selalu kelihatan dari penampilannya



Seorang pemuda mendatangi Zen-sei dan bertanya, "Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain."

Sang Guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?" Melihat cincin Zen-sei yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu."

"Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."

Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayu r, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas.
Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zen-sei dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak."

Zen-sei, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini.
Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian."

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zen-sei dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini.
Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi da ripada yang ditawar ole h para pedagang di pasar."

Zen-sei tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda.
Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak bagi "pedagang emas".

" Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses.
Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas "

Semoga Sekelumit cerita di atas dapat menambah kedalaman jiwa kita dalam memandang makna hidup dan kehidupan ini.

financeis.blogspot.com/2009/09/nilai-sebuah-cincin-kotor.html

Kamis, April 29, 2010

Jadilah yang Terkecil


Tuhan tidak menilai kita dari pekerjaan-pekerjaan dan pelayanan-pelayanan besar kita,

Hanya pekerjaan atau pelayanan kecil saja, namun dilakukan dengan kasih yang besar.

Tuhan tidak membutuhkan kita menjadi orang besar,

Tapi biarlah kita menjadi semakin kecil dihadapan Allah, oleh karena kasih.

Dan bila segalanya harus menjadi besar,

Biarlah nama Tuhan saja yang menjadi semakin besar,

Dan kita pun dibesarkan oleh karena dan untuk Kasih….


Selasa, April 27, 2010

Kasih Untuk-Ku dan sesamamu




Ada seorang Ayah bertanya kepada anaknya,"Nak... mengapa kamu membenci saudaramu??"
Sang anak menjawab,"Karena dia orang yang jahat, Ayah... . Dia suka berbohong dan suka mencuri. Bukankah sudah selayaknya dia dibenci??"
Lalu Sang Ayah menjawab,"Nak... . Tahukah aku bila dia juga adalah anakku. Dan tahukah kamu bahwa aku juga mengasihinya??"
Sang anak langsung menjawab,"Aku tahu Ayah... . Karena aku tahu, Engkau tak pernah membenci siapa pun. Aku juga sangat mengasihimu. Tapi untuk mengasihi dia, sepertinya aku tidak bisa."
"Hmmm.... Itu berarti kamu belum mengasihi aku dengan segenap hatimu...." Kata Sang Ayah.
Sang Anak tidak tahu maksud Sang Ayah, lalu dia bertanya kepada Sang Ayah,"Maksud Ayah apa?? Aku sungguh mengasihimu.... "
"Karena bila kamu membencinya, kamu juga telah melukai hatinya. Dan karena kamu melukai hatinya, kamu juga telah melukai hatiKu... Karena aku juga mengasihinya, seperti aku mengasihi kamu." Kata Sang Ayah. (zepe)

Sabtu, April 24, 2010

Pohon Kelapa




Pohon Kelapa


Aku adalah Pohon Kelapa.
Aku adalah pohon yang bisa tumbuh dan berbuah dimana saja.
Buahku pun tidak bergantung pada musim.
Semua bagian tubuhku bisa berguna bagi orang banyak.
Daunku bisa menjadi atap sebuah rumah.
Batang atau kayuku bisa menjadi kayu bakar atau membangun rumah.
Apalagi buahku….
Dicari banyak orang karena bisa untuk memasak atau dimakan begitu saja.
Airku bisa menyegarkan tubuh yang meminumnya.

Agar seseorang bisa mendapatkan buahku,
Dia harus memanjat.
Dan agar seseorang bisa memanjatku, tubuhku harus dilukai agar bisa menjadi tempat pijakan.
Rasanya sakit sekali…..
Apalagi saat ada orang memijak tubuhku…
Berat sih….
Tapi aku akan tetap berdiri tegak.
Rasa sakit dan berat Itu tidak berlangsung lama.
Bila aku telah melihat orang yang telah memetik buahku merasa bahagia,
Aku pun merasa bahagia.
Karena aku tahu, buahku benar-benar bermanfaat.
Jika kau bertanya sudah berapa banyak buahku yang sudah kubagikan,
Ntahlah… Aku tidak pernah tahu.
Karena aku pun tidak mempedulikannya.
Yang aku tahu, aku bukanlah siapa-siapa.
Aku hanyalah sebuah pohon kelapa yang mampu dan bisa bertahan hidup,
Karena Sinar Surya yang menghidupkanku.
Tanpa Sinar itu…
Bertahan hidup pun aku tak akan mampu, apalagi berbuah.
Maka aku hanya bisa bersyukur,
Tanpa berbangga hati.
(Zepe)

Sabtu, April 10, 2010

KAsih dan Percaya


Saya pernah membaca sebuah artikel tentang pendidikan anak. Di dalam artikel tersebut ada sebuah nasihat yang mengatakan bahwa, orang tua seminimal mungkin tidak mudah mengatakan,”Jangan...!!!” Atau tidak boleh!!” Lewat nasihat tersebut saya akan mengajak anda untuk anda untuk merenung dan membayangkan bahwa diri anda adalah orang tua.

Anda adalah orang tua yang memiliki seorang anak. Pada suatu hari anak anda itu pulang terlalu malam. Anda merasa anda adalah orang tua yang baik, dan harus memberikan pelajaran yang baik kepada anak anda. Lalu saat melihat anak anda masuk ke dalam rumah, anda langsung marah dan berkata,”Dari mana saja kamu?? Mengapa pulang malam??!!!”


Lalu anak anda menjawab,”Saya tadi ada ulang tahun temanku Ayah...”


“Acara ulang tahun kok sampai malam??!! Memangnya acara ulang tahunnya dimana?” Tanya anda dengan penuh keurigaan.


“Di Hugo’s Ayah... .” Mendengar jawaban anak anda yang habis pergi ke Hugo’s, atau sebuah Cafe yang terkenal dengan kehidupan malamnya, anda langsung marah dan memukul anak anda.


Tanpa bertanya lebih lanjut, anda langsung menyeret anak anda ke dalam kamar dan menguncinya.

Setelah menghukum anak anda, anda merasa puas dan merasa telah menjadi orang tua yang baik. Anda merasa bahwa diri anda benar, tanpa mau tahu bila sebenarnya anak anda di dalam Hugo’s Cafe tidak melakukan suatu tindakan tercela, anda juga tidak mau tahu bila anak anda tidak pernah tahu bahwa Hugo’s Cafe adalah tempat yang terkenal dengan kehidupan malamnya, anda juga tidak mau tahu bila dia pulang terlalu malam karena jalan macet. Jika anda mau melihat ke belakang lagi, mungkin anda juga tidak sadar bila anda kurang memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak anda sehingga dia kurang informasi dan mudah dibujuk, anda juga tidak sadar bila anda terlalu mudah menghukum tanpa menelaah permasalahan dengan lebih mendalam sehingga membuat anak anda tertutup dan kurang menghargai atau mengasihi anda.


Bila kita mau menyadari, di setiap permasalahan yang terjadi antara kita dan orang yang kita kasihi, pasti ada sisi kesalahan yang ada di dalam diri kita. Walaupun pada saat terjadi masalah orang yang kita kasihilah yang terlihat bersalah. Begitu juga dalam pelayanan kita. Mungkin kita pernah mengalami masalah dengan teman kita satu komunitas atau satu gereja. Misalnya, bila kita merasa bahwa pemimpin pelayanan kita kurang bijaksana, sudah kita bijaksana sebagai anak buah? Sudahkah kita melayani dengan setulus hati? Apakah kita mesih terlalu sombong dan merasa diri sempurna, sehingga dengan mudah kita mengatakan bahwa pemimpin kita kurang baik karena kekurangan-kekurangan yang ada di dalam dirinya? Atau bila kita ada di posisi sebagai pemimpin. Saat melihat anak buah kita bermalas-malasan dan kurang menghargai anda. Cukupkah anda mengatakan,”Kalian pemalas!!” atau.... “Hargailah pemimpinmu!!!” Tanpa kita mau berkaca ke dalam diri kita, bila kita masih kurang bisa mengendalikan emosi, bila kita masih kurang memberikan perhatian yang cukup kepada anak buah kita, bila kita kurang mau mendengarkan pendapat anak buah kita, bila kita kurang bisa memberikan solusi yang baik saat terjadi masalah, dan masih banyak lagi.


Sehingga di saat kita melihat sahabat atau orang yang kita sayangi berjalan di dalam kegelapan, kita tidak hanya berkata dan menyalahkan,”Bodoh!! Jalan itu salah!!” Namun tanpa berkata pun kita langsung menghampirinya, memegang tangannya, dan membawanya dengan perlahan dan penuh kasih ke jalan yang terang. Sehingga dia mau mengikuti kita bukan karena takut, namun karena dia percaya, Yesus ada di dalam hati kita, dan kasih yang mendorong kita melakukannya.

Harta Rohani (pic)








Rata Penuh
Harta Rohani

Dengan pakaian yang sudah usang, Pak Hardi melangkah menyusuri pematang sawah. Dia mulai mencangkul dan mengolah sawah satu-satunya yang dia miliki. Pak Harjo sudah lama hidup sendiri sejak istrinya meninggal dan anak-anaknya merantau ke kota untuk mengadu nasib. Dengan sisa tenaga yang ada di dalam tubuh rentanya, Pak Hardi tetap bekerja untuk mendapatkan penghasilan dan mencukupi kebutuhan hidupnya.

Di rumahnya, Pak Hardi memiliki sebuah celengan Semar. Celengan yang berbentuk salah satu tokoh semar berbadan gendut itu sudah bertahun-tahun dia isi dengan uang logam. Bila Pak Hardi mendapatkan beberapa keping uang logam hasil bercocok tanam atau dari pekerjaan sampingannya yang lain, maka Pak Hardi selalu memasukkanya ke dalam celengan Semar itu.
Pak Hardi tidak punya tujuan khusus dengan mengumpulkan uang di dalam celengan tersebut. Pak Hardi hanya ingin agar uang tersebut berguna bagi masa depannya kelak, atau bila suatu saat ada kebutuhan yang mendadak. Celengan itu sudah hampir penuh, dan bisa dirasakan dari beratnya celengan itu bila ada banyak uang yang terdapat di dalam celengan tersebut.

Pada suatu hari ada gempa yang besar melanda daerahnya. Gempa tersbut meluluhlantakkan beberapa rumah penduduk. Banyak kurban jiwa melayang dan banyak penduduk kehilangan tempat tinggal. Namun puji Tuhan, Rumah Pak Hardi tidak mengalami cacat sedikitpun. Hal ini terjadi karena Rumah Pak Hardi memang lebih kokoh dari rumah penduduk yang lain. Rumah penduduk yang lain tidak memiliki kerangka pondasi yang terbuat dari besi, sedangkan rumah Pak Hardi memilikinya.

Pak Hardi ikut bersedih dengan bencana yang telah terjadi di desanya tersebut. Pak Hardi merasa sangat prihatin dengan nasib malang yang menimpa tetangga-tetangganya. Namun dia bersyukur karena rumahnya tidak mengalami kerusakan yang berarti, sehingga Pak Hardi juga tidak mengalami luka sedikitpun walaupun saat terjadi bencana Pak Hardi sedang berada di dalam rumah.

Pak Hardi memang orang yang selalu bersyukur dengan segala apa yang terjadi di dalam kehidupnannya. Sebagai wujud ungkapan syukurnya, dia rela memecahkan celengan Semar yang dia miliki untuk dibagikan kepada orang-rang yang membutuhkan akibat bencana yang terjadi. Pak Hardi merasakan suka cita yang besar saat dia membagikan harta yang dia miliki itu kepada orang lain. Tidak sia-sia Pak Hardi menabung selama ini, karena tabungan yang dia miliki kini berguna bagi banyak orang.

Harta yang Pak Hardi miliki tidak beda jauh dengan harta rohani kita. Mungkin kadang kita merasakan sia-sia dengan kehidupan rohani yang kita jalani. Kita kadang merasa lelah dalam pelayanan, capek berdoa, malas ke Gereja, dan lain-lain. Kadang kita berntanya,”Untuk apa semua ini??” Namun percayalah, bila kita dengan tekun dan tulus menjalani kehidupan rohani kita, kita akan menemukan manfaatnya kelak. Mungkin tidak buat kita, namun buat orang lain. Mungkin tidak sekarang, atau besok, atau suatu saat nanti, namun setelah kita mati. (ZP)

Senin, April 05, 2010

Mie Instant VS Daun Pepaya


Bila kita melihat rasa, saya yakin, sebagian besar manusia lebih memilih mie instant daripada daun pepaya. Mie instant memiliki rasa yang gurih dan lezat, apalagi bila diberi cabe dan bumbu masak yang menambah cita rasa masakan. Bagaimana dengan daun pepaya? Udah rasanya pahit, bentuknya juga kurang menarik.

Tapi tahukah anda bila mie instant mengandung bahan pengawet? Dan mie tersebut terkandung lilin yang berfungsi untuk melapisi mie instant (mungkin itu juga yah yang menyebabkan mie tidak lengket satu dengan yang lainnya). Pernah rekan saya bereksperimen dengan cara menyimpan kuah hasil olahan mie instan selama 3 hari, dan ternyata memang terbukti ditemukan zat seperti lilin.

Bagaimana dengan daun pepaya? Daun pepaya, meski rasanya pahit, namun daun pepaya memiliki khasiat yang sangat banyak. Diantaranya adalah memperlancar pencernaan, menambah nafsu makan, antibiotik demam berdarah, dan justru bisa mengobati kanker.
Seperti kehidupan kita, terkadang kita merasa terbuai dengan hal-hal yang terlihat menyenangkan. Namun dalam keadaan tersebut, secara tidak sadar kita membentuk iman dan kasih kita menjadi lemah. Karena terlalu sering belanja barang-barang yang mahal, makan makanan mewah, pergi ke tempat yang mengasyikkan, dan lain-lain, sebenarnya kita sudah beberapa langkah menjauh dari Tuhan. Kasih kita pun bisa menjadi tumpul karenanya. Kita menjadi mudah memandang rendah orang lain yang status sosialnya jauh di bawah kita, kita menjadi malas berdoa karena kesibukan yang menghasilkan uang, kita jadi malas ke gereja karena ada tempat yang lebih mengasyikkan. Dan bila kita tidak waspada, lama-kelamaan hati kita menjadi keras dan sulit untuk diubah menjadi lebih baik.

Itulah pentingnya “daun pepaya” dalam kehidupan kita. Itulah pentingnya berbagi dengan sesama meski kita dalam keadaan sulit, menyediakan waktu untuk berdoa meski banyak kesibukan, rela membantu sesama meski diri kita sendiri sebenarnya memerlukan bantuan. Memang, rasanya benar-benar tidak enak. Pahit banget. Namun percayalah, bila kita sudah terbiasa memakan daun pepaya, pahitnya daun pepaya menjadi tidak terasa lagi. Yang terasa hanyalah tubuh kita yang semakin sehat karena khasiat daun pepaya yang tidak enak. Memberi itu tidak enak, apalagi disaat kita sendiri sedang susah. Namun didalam ketidakenakan itulah jiwa kita semakin dimurnikan hingga kita semakin mengerti makna kasih yang sejati, dan merasakan bila memberi bukan lagi sebagai beban apalagi kewajiban, melainkan kebutuhan. Kebutuhan yang membuahkan suka cita di hati di dalam Tuhan.
(ZP)

Minggu, April 04, 2010

Kasih Tanpa Pilih



Sumber gambar: http://www.kcm.co.kr/glp/ce/rs/rs168.jpg

Budi adalah seorang yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sepulang dari gereja, Budi mampir di sebuah rumah makan. Di sana dia bertemu dengan seorang Bapak yang beragama muslim. Mereka pun bercakap-cakap disebuh rumah makan. Ternyata Bapak itu adalah seorang pengusaha yang berkecimpung di dalam dunia pendidikan.

Bapak itu bernama Pak Eko. Dia memiliki jiwa pengabdian yang sangat tinggi. Dia banyak mendirikan beberapa bimbingan belajar. Diantaranya adalah bimbingan belajar yang banyak menampung anak-anak yang berasal dari keluarga yang kurang mampu, terutama adalah anak-anak jalanan. Ada beberapa bimbingan belajar yang ia dirikan, namun tidak memberikan keuntungan secara material, bahkan malah merugi. Namun Bapak itu akan tetap mempertahankan bimbingan belajar tersebut bila membawa berkat dan manfaat bagi banyak orang.

Pak Eko mengatakan bahwa dia merasakan suka cita tersendiri, saat dia bisa memberikan harapan masa depan yang lebih baik bagi orang lain. Dia banyak sekali memberikan motivasi kepada banyak anak jalanan dan anak-anak yang kurang terdidik agar bisa kuat dan menjadi orang baik meski keadaan mereka kurang baik. Pak Eko tidak pernah mempermasalahkan apa pun agama mereka dan latar belakang mereka. Cita-cita Pak Eko hanyalah memberikan harapan masa depan yang lebih baik bagi mereka yang kekurangan, siapa pun mereka.

Dari Pak Eko, Budi belajar banyak hal tentang saudaranya yang beragama Muslim. Meskipun Pak Eko tidak pernah mengatakan “kasih” dalam setiap pengabdian/pelayanannya, namun Budi bisa merasakan bila Pak Eko adalah orang yang penuh kasih. Semangat pengurbanannya yang tinggi benar-benar memberikan sebuah inspirasi yang baru bagi Budi, untuk lebih menghormati dan mengasihi mereka yang beragama lain. Di dalam hati Budi, Budi merasa malu, karena meski dia adalah pengikut Kristus (yang selalu menekankan KASIH), namun bila dibandingkan dengan Pak Eko yang seorang Muslim, Budi bisa dikatakan kalah dalam melaksanakan hukum kasih. Mungkin Pak Eko tidak pernah mengetahui tentang ajaran IMAN, PENGHARAPAN, DAN KASIH, namun dalam prakteknya, Budi bisa dikatakan kalah jauh. Mungkin Pak Eko tidak mengimani Kristus, namun dengan iman dan perbuatannya benar-benar mencerminkan ajaran Kristus. Perbedaan yang ada diantara Pak Eko dan Budi tidak membuat mereka saling bermusuhan, melainkan saling memperkaya dan mendewasakan. Saudara-saudaraku .... Mari kita belajar dari Pak Eko, seperti kita belajar dari “Orang Samaria yang Murah Hati”.

Kamis, Maret 25, 2010

Pelayan Sejati?


Dengan tergesa-gesa Fanny berjalan di tengah salju yang dingin. Dia berangkat dengan menggunakan mantel bulu beruang yang tebal, syal berbahan benang wol, dan topi yang menutupi seluruh rambutnya. Fanny berjalan dengan riang gembira meski cuaca sedang tidak baik. Dia tidak ingin melewatkan kesempatannya untuk tampil di hadapan banyak orang dalam sebuah acara pelayanan.


Jari-jemarinya telah diberkati Tuhan untuk bisa bermain musik dengan sangat indah, makanya dia terpilih menjadi pianis untuk mengiringi sebuah grup koor yang sudah terkenal. “Inilah saat terbaik untuk menunjukkan siapa diriku.” Demikian kata-kata yang muncul di pikiran Fanny saat di dalam perjalanan ke sebuah gereja. Jarak antara rumah Fanny tidak terlalu jauh dari gedung Gereja, sehingga dia masih punya banyak waktu untuk menikmati perjalanannya.


Saat Fanny sedang asyik berjalan menikmati dinginnya salju, Fanny berpapasan dengan seorang anak yang berwajah sangat pucat. Lelaki kecil itu hanya menggunakan jaket dan celana panjang yang tidak terlalu tebal. Pakaian yang dia kenakan pun terlihat usang dan ada bagian yang telah robek, terutama pada bagian lutut dan sikunya..


Saat berpapasan dengan Fanny, anak kecil itu langsung berjalan ke arah Fanny. Fanny tau bahwa anak kecil itu hendak berjalan menuju kepadanya. Dan benar pula apa yang diperkirakan Fanny bila anak kecil itu adalah seorang pengemis, karena saat ada di hadapan Fanny anak kecil itu berkata,”Kak.... Tolong aku. Aku benar-benar kelaparan. Satu hari ini aku tidak bisa mendapatkan makanan. Maukah kau menolongku?”

Mendengar kata-kata itu, Fanny menjadi salah tingkah. Fanny tidak tahu harus berkata dan berbuat apa. Namun karena anak kecil itu benar-benar terlihat sangat lemah, maka Fanny pun memberikan sedikit uang untuk dia berikan kepada anak kecil itu.”Baiklah... Ini aku berikan sedikit uang untukmu agar kau bisa membeli makanan.”


Anak kecil itu pun menerimanya, dan mengucapkan terima kasih kepada Fanny. Maka Fanny pun lalu berkata,”Sekarang pulanglah... Atau belilah sedikit makanan agar kamu tidak kelaparan.”

Namun ternyata anak itu berkata,”Maaf Kak... Aku memang kelaparan. Tapi saat itu aku sebenarnya aku sedang tidak butuh uang untuk membeli makanan. Saat ini aku sedang dalam perjalanan pulang, karena aku baru saja tersesat. Maukah Kakak menggendongku sampai ke rumah??”


Mendengar kata-kata anak itu, murkalah Fanny kepada anak kecil itu,”Hei anak kecil, apa sih mau kamu sebenarnya. Aku sudah berbaik hati memberimu uang. Sekarang kamu malah memintaku untuk menggendongmu sampai ke rumahmu. Sudahlah! Sebaiknya kamu cari orang lain saja. Saat ini aku sedang tidak punya banyak waktu. Aku harus melayani Tuhan di gereja. Bye!”


Tanpa banyak berkata apa-apa lagi, Fanny pun segera meninggalkan anak kecil itu untuk melanjutkan perjalanannya ke gereja. Anak kecil itu terlihat sangat sedih dan kecewa dengan apa yang Fanny lakukan dan katakan kepada anak kecil itu. Tanpa merasa bersalah Fanny meninggalkan anak itu, bahkan di dalam hati Fanny masih tersimpan perasaan sebel dan marah terhadap anak kecil itu. Anak kecil itu hanya terdiam, dan merasa bersalah karena telah membuat Fanny marah.


Akhirnya Fanny pun sampai di gereja dengan selamat. Hari itu dia bisa melayani Tuhan dengan baik. Banyak orang mengagumi permainan Fanny. Bahkan ada banyak orang langsung datang kepada Fanny untuk mengucapkan selamat karena dapat melayani dengan baik. Fanny pun merasa sangat bahagia hari itu. Fanny merasa telah memberikan pelayanan yang terbaik buat Tuhan, karena banyak orang mengagumi permainan pianonya yang sangat indah.


Setelah acara selesai, Fanny pun segera pulang ke rumah. Fanny juga pulang dengan cara berjalan kaki. Fanny ingin sekali memberitahukan segala pelayannanya kepada orang tuanya, agar mereka merasa bangga memiliki anak seperti Fanny. Fanny pun pasti juga akan sangat bahagia karena mendapatkan pujian dari Mama Papanya.


Namun di tengah perjalanan, Fanny melihat ada sekelompok orang sedang berkumpul dan melihat sesuatu. Fanny pun menjadi sangat penasaran melihat kerumunan orang banyak itu, lalu berjalan mendekatinya. Fanny pun bertanya kepada salah seorang dari mereka,”Pak... Ada apa? Apa yang dilihat oleh kerumunan orang itu?”


Dan orang itu pun menjawab,”Ada seorang anak kecil telah diketemukan meninggal dunia dalam keadaan kaku. Sepertinya dia meninggal karena kelaparan.”

Betapa terkejutnya Fanny ketika mendengar jawaban orang itu, maka Fanny pun segera bergegas berjalan lebih dekat lagi ke kerumunan orang banyak itu untuk melihat anak kecil yang telah meninggal dunia.

Dugaan Fanny ternyata tidak salah, saat Fanny sudah sampai di depan mayat anak itu, Fanny terlihat sangat shock. Dia tidak bisa menahan air matanya berlinang, dan tubuhnya pun menjadi sangat kaku. Anak kecil yang telah meninggal itu adalah anak kecil yang baru saja meminta bantuan kepada Fanny.


Betapa menyesalnya Fanny pada saat itu. Andai saja dia mau mengantarkan anak kecil itu sampai ke rumahnya, tentu anak kecil itu tidak akan bernasib buruk. Karena Fanny tidak ingin ada orang yang melihatnya menangis saat melihat anak kecil itu, maka Fanny pun segera meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumah.

Saat sampai di rumah, hati Fanny yang tadinya penuh suka cita menjadi berubah. Hati Fanny kita dipenuhi oleh kegalauan, penyesalan, dan perasaan bersalah. Sampai di rumah Fanny langsung mengurung diri di dalam kamarnya, dan memohon pengampunan kepada Tuhan atas kejahatan yang telah dia lakukan. Fanny pun semakin menyadari bila pelayanan yang dia lakukan adalah sia-sia, bila dia tidak memiliki hati yang mengasihi.